Bangkok Day 1: Backpacker Bangkok “Berjamaah” Day 1

Bangkok Day 1, 2 April 2013
Inilah yang saya sebut sebagai perjalanan jam 1 pagi dari Bandung sampai jam 1 pagi lagi di Bangkok.
Setelah mendarat di Bangkok dengan penerbangan RI900 Mandala Air sekitar pukul 10.20 waktu Bangkok, perjalanan tentu saja masih harus dilanjutkan ke Hotel tempat kami akan stay selama di Bangkok. Tapi, sebelum menuju hotel, jadwal kami adalah makan siang dan sholat Dzuhur di bandara. Masakan Halal di Suvanabhumi Airport terletak di Food Court 1FL. Selain itu, di Bandara ini juga terdapat Muslim Prayer Room Suvarnabhumi Airport yang belum tentu akan kami temukan di perjalanan atau dekat hotel nanti.

Food Court Suvarnabhumi berada di 1FL (lantai 1) Bandara Suvarnabhumi, terminal kedatangan di lantai 2. Sedangkan Muslim Prayer Room Suvarnabhumi (Musholla) terletak di Lantai 3 dan tersebar di tiga titik.

Your Direction | Doc: Fazword
Magic Food Point at 1FL Suvarnabhumi, Halal Food Inside | Doc: Fazword
Yellow Sticky Rice with Chicken curry & Fresh Cucumber (Halal Food) | Doc: Fazword
Muslim Prayer Room Suvarnabhumi Airport at 3rd Floor | Doc: Fazword

Selesai mengisi kebutuhan biologis dan rohani, kami lanjutkan perjalanan menuju hotel. Hotel kami adalah Residence Hotel berada di Petchburi Road, Bangkok. Hotel ini dekat dengan KBRI Bangkok, Pratunam Market, Siam Paragon, Siam Discovery, Pantip Plaza, Platinum Mall, Baiyouke Market dan MBK, surga belanja di Bangkok yang banyak didatangi warga Indonesia.

Perjalanan ke Kota Bangkok dari Suvarnabhumi tergolong mudah, karena memang pemerintah Thailand paham betul arti penting menyediakan transportasi mudah akses dari airport menuju kota. Kami menggunakan Airport Rail Link, semacam kereta listrik di Indonesia, tapi di sini lebih bersih, aman, dan nyaman (nilai plus). Kurang lebih memakan waktu 1 jam dari sini ke hotel setelah sebelumnya juga telah berganti transportasi dari Airport Rail Link ke BTS (Bangkok Mass Transit System / Sky Train).

Airport Rail Link | Doc: Fazword
Airport Rail Link | Doc: Fazword

Tiba di hotel sekitar pukul 1 siang, lelah? Tentu saja, ditambah panas kota Bangkok yang luar biasa siang itu. Lobby hotel adalah pelampiasan untuk “ngadem”. Hotel kami bernama Residence Rajtaevee Hotel, Bangkok. Saya pernah dua kali ketemu orang Indonesia di sini sesama tamu hotel, mungkin hotel ini banyak disukai orang Indonesia.

The Residence Hotel Lobby | Doc: Fazword

Hari 1 tidak berakhir sampai di sini, masih ada waktu kurang lebih 12 jam untuk mengakhiri hari itu. Jadi, tidak boleh disia-siakan! Di itinerary perjalanan yang sudah kami susun, Itinerary yang Saya sebut sebagai itinerary backpacker berjamaah (hehehe) hari itu setelah dari hotel, kami langsung menuju Wat Pho, kuil dimana terdapat patung Buddha raksasa yang sedang berbaring (The Reclining Buddha). Untuk menuju ke Wat Pho, kami perlu naik boat melalui Sungai Chao Phraya. Yes!!

Karena memang perjalanan kami backpackeran, jalan kaki dan transportasi umum adalah kawan sejati kami. Tidak ada travel jemputan, charter travel, dan lain-lain. Naik traditional boat di Chao Phraya river ini jadi berbeda sendiri, karena di sinilah terlihat jelas bagaimana jelinya pemerintah di sana memanfaatkan segala jalur yang ada untuk transportasi sehingga bisa mengurangi kemacetan di kota (meskipun masih ada macet, tapi semacet-macetnya tetap bisa jalan.. hehehe). Tarif traditional boat Chao Phraya dari tempat kami naik (saya lupa nama dermaganya) sampai di dermaga dekat Wat Pho adalah 15 THB/pax, tidak mahal karena kalo dirupiahkan kurang lebih nilainya 5000. Sepanjang perjalanan, lalu lalang fast boat, kapal tongkang, kapal wisata, dan tentunya pemandangan gedung-gedung tinggi kota Bangkok jelas terlihat dari sini. Juga nampak Wat Arun yang kalo waktu malam, terlihat seperti gunung emas bermandikan cahaya.

Boat Route | Doc: Fazword
Chao Phraya Boat Ticket 15THB | Doc: Fazword
On boat | Doc: Fazword

Sampai di dermaga dekat Wat Pho, masih butuh jalan kaki sedikit saja untuk mencapai Wat Pho yang bernama asli: Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwara Mahaviharn. Panjang juga ya namanya, tapi memang sudah budaya orang Thailand memiliki nama panjang juga nama pendek sebagai panggilan, semisal aktris Preechaya Pongtananikorn yang biasa dipanggil Ice😉 . Untuk Tiket masuk Wat Pho, siapkan 100 THB. Tiket ini sudah termasuk kupon yang bisa ditukar dengan fresh drink di Wat Pho.

Wat Pho | Doc: Fazword
Wat Pho Map | Doc: Fazword
Tiket Masuk Wat Pho 100 Baht | Doc: Fazword
Di Wat Pho, tidak lain adalah waktunya banyak berfoto😀 Indah memang arsitektur yang ada di sana. Mulai dari patung yang kecil-kecil sampai yang paling besar (Patung The Reclining Buddha), arsitektur bangunan kuil yang megah, hingga menara-menara kuil yang tegak tajam mencakar langit. Keindahan inilah yang membuat kami dan beberapa turis lainnya lupa waktu, karena jam 5 sore Wat Pho tutup. Jam waktu itu sudah lebih jam 5, dan tanpa diketahui, penjaga Wat Pho sudah mengunci gerbang. Kami terkunci? Tidak bisa keluar? Lalu menginap di Wat Pho? Oh, beruntung ada seorang Bapak orang Thailand, tampaknya akrab dengan penjaga Wat Pho membantu kami dan meminta penjaga membuka kembali gerbang untuk kami. Alhamdulillah, akhirnya bisa keluar. Ini salah satu bukti jalan-jalan di Wat Pho bisa bikin lupa waktu😀
Statue inside Wat Pho | Doc: Fazword
Inside Wat Pho | Doc: Fazword
The Reclining Budha | Doc: Fazword
Inside Wat Pho | Doc: Fazword
Selesai dari Wat Pho, sudah memasuki waktu Maghrib. Tentu saja Kami harus mencari tempat sholat dan kami putuskan untuk mencarinya di kawasan Khao Sarn, tujuan kami selanjutnya. Kembali ke dermaga karena perjalanan ke Khao Sarn Road kami pilih melewati sungai Chao Phraya lagi. Perjalanan waktu maghrib di sungai ini sangat memanjakan mata dengan pemandangan senja. Lihat Wat Arun yang sudah benar-benar mirip gunung emas bermandikan cahaya, gedung-gedung pencakar langit kota Bangkok sudah mulai bercahaya, sinar lampu kapal berlalu lalang, dan jembatan Bhumibol Bridge yang “mengangkangi” sungai ini. Indah sekali waktu itu dan tak dirasa, kami sudah sampai di dermaga tempat kami harus turun. Dari dermaga kami masih perlu jalan kaki untuk mencapai Khao Sarn Road. Kali ini sedikit kebingungan kemana harus melangkah, tapi apalah guna teknologi GPS kalo tidak bisa menuntun kami ke sana hehehe…. Jalan kaki yang awalnya kami kira tidak jauh, ternyata lumayan juga, kurang lebih satu kilometer sebelum menemukan jajanan steak daging halal yang dijual di pinggir jalan. Ini clue, pasti di sekitar tempat itu ada tempat ibadah Muslim atau perkampungan Islam. Oh ya, selama di sana saya jadi tahu bahwa orang Bangkok akan lebih paham jika kita bertanya dimana Surau? ketimbang bertanya Where is Mosque? Muslim Prayer? dll. Tepat sekali, di dekat tempat jualan steak tadi, memang ada sebuah gang kecil yang penduduknya mayoritas muslim dan di sini jugalah kami menemukan sebuah masjid berdiri megah sebagai tempat ibadah umat Islam di sana. Masjid ini jugalah yang kami kunjungi lagi di hari kedua untuk sholat Dzuhur dan Ashar.
Wat Arun | Doc: Fazword & Friends
Bhumibol Bridge Accross Chao Phraya | Doc: Fazword & Friends
Sunset at Chao Phraya River | Doc: Fazword & Friends
Masjid near Khao Sarn Road | Doc: Fazword & Friends
Di masjid ini, saya berkenalan dengan seorang Da’i asli Thailand, namanya Faozan. Komunikasi kami yang sedikit terkendala bahasa, tapi masih bisa saling dimengerti dan dari beliaulah saya tahu bahwa di Bangkok masyarakat muslim adalah minoritas dengan jumlah +- 2000 orang. Akh Faozan juga yang memberitahu kami bahwa di Khao Sarn Road ada rumah makan muslim, namanya warung Aisyah. Terima kasih akhi, semoga bisa bertemu kembali nanti, aamiin…
Dari sana, kami lanjutkan jalan kaki ke Khao Sarn Road. Belum lelah! atau memang  lelah tidak terasa karena inilah Bangkok! Sampai di Khao Sarn Road, kesan pertama saya adalah inilah kawasan kumpul backpacker pendatang Bangkok yang dulu hanya bisa saya lihat dan bayangkan di Internet, dan sekarang, ya! Saya benar-benar sedang ada di sini, melihat dan merasakan aura backpacker-nya langsung. Ramai kiri dan kanan jalan turis asing dan makanannya, yang sedang berbelanja, sekedar duduk-duduk istirahat. Berbeda dengan kami, masih melihat-lihat dan mencari satu warung, Warung Aisyah. Kebutuhan biologis harus segera dipenuhi. Tak lama kemudian, akhirnya ketemu juga Warung Aisyah, selamat makan! Seluruh menu di sini halal, jadi gak perlu khawatir mau makan yang mana. Di sini saya juga bertemu empat orang Indonesia, tapi tidak sempat kenalan hehehe… Ada yang pernah ke sini juga?😉
Selesai makan dan siap lanjut, kami keluar. Tapi, di itinerary kami, hari ini tampaknya harus diakhiri sampai di sini. Masih ada tiga hari lagi untuk dinikmati. Jadi, sebaiknya pulang ke hotel dan beristirahat. Untuk pulang, kali ini kami coba lebih “eksekutif” dengan taksi kota Bangkok.  Meskipun yaa, harus tawar menawar karena sopir taksinya tidak mau pakai Argo dengan alasan sedang jam macet (padahal gak macet looh waktu itu), dan ini taksi meter bos!. Pada akhirnya, kami menang di angka 120 THB dari tawaran sopirnya 200 THB. Rombongan kami yang jumlahnya 15 orang memesan 4 taksi, dan ternyata taksi dimana aku berada (puitis dikit hehehe..) adalah taksi dengan tarif paling murah, yang lainnya malahan ada yang kalah tawar menawar di angka 200 THB. All Hail Tawar Menawar! Hahaha….
Tiba di hotel, malam itu cukup sampai di situ dan fix Bangkok Day 1 diakhiri sampai di sini. Selamat datang di kasur. Sampai jumpa esok di Bangkok Day 2.
Summary Bangkok Day 1: Bandung ==> T3, Soekarno Hatta International Airport ==> Suvarnabhumi International Airport ==> Petchburi Road, Residence Hotel ==> Accross Chao Phraya River by Boat ==> Wat Pho ==> Chao Phraya ==> Khao Sarn Road ==> Residence Hotel.
Sekian dan Terima Kasih.

========================================================

Tulisan ini dipindahkan dari Blog saya: Fazword Blog

6 thoughts on “Bangkok Day 1: Backpacker Bangkok “Berjamaah” Day 1

  1. Numpang nanya donkk. pas ke Bangkok ada mampir ke Asiatique River Front gk?
    Itu Asiatiquenya sederetan sama Wat Arun atau sederetan grand palace? Soalnya lihat di google maps gk ngerti:/

    • Hi Cessy, Waktu itu saya tidak ke Asiatique, tapi kalo saya tidak salah, Asiatique berada sejajar dengan Wat Pho, punya pier sendiri. Enaknya sih diakses by boat, dari Sathorn Pier ke Asiatique pier. Tinggal kasi tau petugas pas mau naik boat.

      Good Luck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s