Surabaya – Pare: Napak Tilas Memori

Melanjutkan cerita sebelumnya, AirAsia Bandung – Surabaya Hampir Batal Konyol yang diakhiri ketika saya nebeng di kosan teman di Surabaya.

Hari ini adalah H+1 saya meninggalkan Bandung, tepatnya Rabu, 9 Januari 2013. Janji saya hari itu bahwa saya harus ke tempat di mana saya akan bertemu dengan saudara-saudara saya yang luar biasa. Perjalanan  dimulai pukul 8 pagi ketika berpamitan ke teman saya yang mengantar sampai ke jalan utama untuk mencari angkot (baca: Lyn). Sekali lagi, terima kasih agan Faris Maulana atas tampungannya hehe.. Tujuan waktu itu adalah terminal Bungurasih, Surabaya. Malam sebelumnya, saya sudah mencari informasi tentang bagaimana saya dapat mencapai terminal Bungurasih dari kampus ITS Sukolilo. Alhamdulillah, media social Surabaya, Twitter @infosurabaya sangat membantu waktu itu, Big Thanks rek! Membantu saya bertanya kepada arek-arek Suroboyo yang sangat antusias menjawab pertanyaan saya malam itu. Matur sembah suwun arek Suroboyo.

Dari jawaban-jawaban malam itu, saya simpulkan bahwa saya akan naik dua moda transportasi untuk mencapai Bungurasih dari ITS Sukolilo. Pertama adalah naik Lyn S sampai terminal Bratang, lalu lanjut bus kota tujuan terminal Bungurasih. Mudah! Bismillah, leaving for a memorable town.

Lyn S adalah Lyn yang berwarna biru dongker yang lewat di kawasan Sukolilo, Surabaya. Maaf saya tidak tahu sebelah mananya ITS, karena memang baru pertama kali di situ. Perjalanan kurang lebih memakan waktu 45 menit. Tidak terasa membosankan meskipun sendirian, karena pemandangan sepanjang perjalanan adalah tatanan jalan yang sangat rapi dan asri di kota ini. Luar biasa! Sampai di Terminal Bratang kurang lebih jam 9 pagi. Pemandangan pagi itu sebuah terminal yang sederhana, tertata sangat rapi, dan lengang. Damainya di terminal waktu itu. Sebagai informasi, ongkos Lyn waktu itu adalah 3000 perak.

Terminal Bratang Surabaya | Image by:  Fazword

Bratang Terminal, Surabaya | Image by: Fazword

Dari terminal ini, saya akan naik bus kota menuju ke Terminal Bungurasih. Bus kota sendiri telah berjejer rapi dan siap berangkat. Saya naik di bus yang memang akan berangkat lebih dulu waktu itu, sehingga tidak banyak waktu terbuang di terminal. Okelah, perjalanan dimulai untuk kurang lebih 45 menit ke depan dengan ongkos 4000 perak. Leaving for Bungurasih.

Tiba di Bungurasih jam 10 kurang, saya masih sedikit bingung. Kemanakah akan melangkah setelah turun dari bus kota. Saya ingat cerita seorang teman di blognya tentang “bringas-nya” porter dan awas preman di Bungurasih. Lumayan menciutkan nyali saya ketika turun dari bus kota. Tapi apa yang saya temukan, memang ada porter, tapi tidak seperti yang diceritakan oleh teman saya yang sampai menarik barang bawaan calon penumpang. Apalagi preman, tidak satupun nampak. Alhamdulillah, saya sepertinya sedang beruntung dan teman saya itu sedang bad luck / Bad Luck Friend (BLF). Dari tempat turun bus tadi, telah terpampang petunjuk arah kemana harus masuk, dan oke saya hanya perlu melangkah lurus dari posisi berdiri waktu itu. Masuk dengan langkah pasti dan muka tenang, seperti saran seorang teman. Akhirnya saya temukan bangunan terminal Bungurasih, dimana telah berjejer dengan rapi bus-bus AKAP maupun AKDP di sana. Kesan pertama saya di terminal ini bahwa terminal ini sangat rapi, bersih, dan inilah terminal terbaik yang pernah saya temui.

Terminal Bungurasih | Image by: Fazword

Bus yang akan saya tumpangi, yakni bus yang akan membawa saya ke memorable town yang sedang dituju. Baiklah, sebaiknya saya sebutkan saja, bahwa saya akan ke Pare. Tempat yang lebih dikenal orang sebagai Kampung Inggris. Di sanalah saya punya kenangan tahun 2009 dan kali ini akan saya kunjungi lagi dengan tujuan yang sama, untuk belajar.

Saya akan menggunakan Bus Patas Rukun Jaya. Bus yang akan saya tumpangi ini rupanya belum tiba di terminal. Jadilah saya menunggu di tempat pemberangkatannya bersama puluhan calon penumpang. “Alamat” akan rebutan nanti ketika naik karena menurut informasi yang saya miliki, PO Rukun Jaya menggunakan bus 3/4 sebagai armadanya. Semoga saya dapat tempat duduk. Sekitar pukul 10.15, bus Rukun Jaya datang. Langsunglah “pasang kuda-kuda” bersiap naik ke bus. Ya, benar saja rebutan naik waktu itu tidak dapat dihindarkan. Saya sendiri diam terlebih dahulu dan membiarkan ibu-ibu dan anak-anak untuk naik. Legowo dulu lah, setelah itu saya coba naik. Betul saja bangku telah terisi semua, kecuali ada seorang bapak yang duduk di belakang yang menyisakan tempat untuk saya di sampingnya. Terima kasih Pak, lupa kenalan waktu itu hehehe… Sekali lagi, Setiap Kejadian dalam Hidup Memiliki Makna.

Bus kemudian berangkat, perlahan menembus jalanan kota Surabaya, Sidoarjo, dan menuju ke Pare. Ongkos waktu itu 20rb rupiah, tapi jika ada barang di dalam bagasi, maka wajib menambah 10rb rupiah. Lumayan murah untuk ukuran bus patas dengan waktu tempuh 2,5 jam sampai Pare.

Armada Patas Rukun Jaya | Image by: sumberkencono.multiply.com

Tiket Bus Rukun Jaya | Image by: Fazword

Perjalanan 2,5 jam tidak terasa karena saya sebenarnya juga sempat terlelap hehehe.. Di Pare, saya diturunkan di perempatan Tulungredjo. Mulai terasa suasana memorable town 4 tahun lalu. Dari situ, saya naik becak menuju ke lembaga kursus saya di Elfast. Sepanjang perjalanan yang kurang lebih 2 kilometer, masih nampak suasana Pare yang dulu, tapi ada perbedaan dengan semakin banyaknya lembaga kursus. Di kiri dan kanan jalan lembaga kursus berlomba-lomba memasang spanduk dan penanda tempatnya. Okelah, ini akan saya ceritakan selanjutnya ya.

Tiba di Elfast, saya langsung melapor kepada pihak yang ada di sana. Big thanks to Mr. Ichsan atas guidance-nya membantu saya melakukan registrasi ulang dan mengurus kosan. Arigatou sir. Di sinilah juga saya bertemu dan berkenalan dengan seorang sahabat, yang selanjutnya menjadi teman kosan, bahkan teman kamar selama di Pare. Salam kenal Mas Angga Ardiansyah, temanmu ini dari Lombok, tau Lombok kan? hehehe.

O ya, saya ngekos di jalan Anggrek, kosan Pak Ir yang juga dikelola Elfast. Di sini juga saya berkenalan dengan teman dari Lampung, tapi orang Padang, pernah tinggal di Jogja. Petualang Indonesia ini teman, namanya Mas Riski. Salam kenal mas. Kosan ini kami masuki dalam keadaan kosong, jadi kami bertigalah penghuni pertama kosan pada periode itu. Alhamdulillah, diperkenalkan dengan sahabat-sahabat yang luar biasa ini. Alhamdulillah juga telah berhasil sampai di Pare dengan selamat, perjalanan sendirian juga. Berbeda dengan kedatangan sebelumnya dengan rombongan dua bus.

Terima kasih

Salam hangat ,

Lebih Interaktif di Twitter: @Fazword

========================================================

Tulisan ini dipindahkan dari Blog saya: Fazword Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s